Kamis, 03 Desember 2009

.:Malam 1 Suro:.

Belajar menelusuri sejarah, tradisi dan budaya yang masih melekat erat di kalangan rakyat jawa. Sembari jalan-jalan menelusuri tempat di waktu malam,yaitu malam satu Suro, menjadi momen yang tepat. Malam satu Suro, bagi sebagian orang jawa dikaitkan dengan hal-hal mistis dan berfilosofis. Sebenarnya, diluar liputan, ada banyak latar belakang historis peristiwa penting yang terjadi di bulan Suro, khususnya penganut agama Islam, yang tentu saja berafiliasi dengan kebudayaan Mataram Jawa-Hindu.

.:Napak Tilas Yang Berada Di Desa Sepi Barepan Cawas Klaten:.




Malam satu suro yang jatuh pada tanggal 18 Desember 2009 besok..
dan kita bisa mensyukuri nikmat dan karunia ilahi dengan berbuat kebaikan antar sesama,banyak berdoa,ber zikhir dan membaca al quran..Dan hal bersiarah tersebut hanyalah simbol untuk bagaimana kita bisa mengagungkan asma Allah.Swt...


Sedikit cerita tentang 1 suro atau 1 muharam.Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khathab, seorang khalifah Islam di jaman setelah Nabi Muhammad wafat. Awal dari afiliasi ini, konon untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa. Maka tahun 931 H atau 1443 tahun Jawa baru, yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hirjiyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu.

Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin “menyatukan Pulau Jawa.” Oleh karena itu, dia ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi disebabkan keyakinan agama. Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan. Pada setiap hari Jumat legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri. Akibatnya, 1 Muharram (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat legi ikut-ikut dikeramatkan pula, bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut diluar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul. Lebih detail tentang riwayat malam Satu Suro bisa dibaca disini.

Tradisi Jawa


Kirab Di Solo






Malam hari,pada saat malam satu suro, banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa yang jatuh esok paginya, dengan caranya sendiri-sendiri. Tidak sedikit, untuk dapat dikatakan demikian, warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng, hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran jalan. Dengan Tapa Bisu, atau mengunci mulut, tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya. Kungkum atau berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat yang masih mempercayai tradisi jawa. Yang paling mudah ditemui di seputaran tempat-tempat peninggalan para wali, yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi, adalah Tirakatan dan Pagelaran Wayang Kulit. Begitu pula di Pantai Parangkusumo, kawasan Parangtritis,dan tempat-tempat dimana dulu pernah di singgahi para wali-wali untuk berdakwaah.Seperti hanya di kota saya,yaitu kota klaten.Banyak tempat-tempat seperti itu,seperti halnya kecamatan bayat,dan kecamatan cawas.Di cawas sendiri terdapat sebuah petilasan kanjeng sunan kali jaga,dimana dulu kanjeng sunan pernah singgah dan mengarjarkan agama islam di situ.Tepatnya yaitu di Dukuh Sepi,Desa Barepan,Kecamatan Cawas,Kabupaten Klaten.Banyak orang jawa atau orang-orang tua dulu yang meyakini,bahwa tempat itu adalah napak tilas para wali.Yaitu kanjeng sunan Kali Jaga atau di kenal dengan sebutan Raden Said.

.:Sejarah Sunan Kali Jaga:.

Sunan Kalijaga, seperti halnya Syekh Siti Jenar, memang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa melalui sisi budaya. Seperti diketahui banyak orang, Islam menemui banyak halangan untuk berkembang di tanah Jawa karena bertemu dengan kultur yang sudah sangat kuat, yaitu kultur Hindu/Buddha di bawah pengaruh kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga melakukan transmogrifikasi dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam budaya-budaya Jawa seperti memasukkannya ke dalam syair-syair macapat, memodifikasi wayang kulit, menciptakan lagu yang sangat terkenal, Lir-Ilir, dsb. Pendekatan budaya seperti ini yang memang tidak disebutkan secara literalistik linguistik dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist menyebabkan banyak pihak menganggap ajaran-ajaran Sunan Kalijaga adalah bid’ah.

Sunan Kalijaga adalah Putra dari seorang Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta (Raden Sahur) yang keturunan dari Ranggalawe.Sewaktu masih kecil, Sunan Kalijaga bernama Raden Seca, karena sering mencuri di gudang Kadipaten dan dibagikan kepada rakyat miskin, akhirnya ia dilarang keluar dari Istana. Dan Raden Seca harus belajar ilmu agama yang di ajari oleh Sunan Ampel. Setelah mendapat gemblengan dan semakin memahami makna sejarah Islam, akhirnya Raden Seca namanya di ganti oleh Sunan Ampel menjadi Raden Said.

Kemudian Raden Said berkelana dan melawan para perampok yang merampok harta orang miskin. Ia juga merampok para pejabat kaya, dan hasil dari rampokannya itu diberikan kepada orang miskin, terutama di hutan wilayah Tuban, ia mempunyai julukan Brandal Lokajaya. Beberapa tahun kemudian Raden said bertemu dengan Sunan Bonang, dan sejak itu ia tidak merampok lagi. Dia benar-benar mendalami agama Islam dan melakukan semedi ditepi sungai. Dan Raden Said oleh Sunan bonang diberi gelar Sunan Kalijaga.

Sejak saat itu Sunan Kalijaga mulai berkelana untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Sunan kalijaga tidak seperti para Wali lainnya yang memiliki pusat sarana pendidikan dan pengembangan dakwah yang berupa pondok pesantren. Ia lebih memilih mengembara dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat yang menjadi sasaran pengembangan agama Islam. Dimaklumi, karena pada saat itu pengaruh mistik, animisme dan dinamisme, Hindu dan Budha sangat kuat sekali menguasai masyarakat Jawa. Namun demikian, Sunan Kalijaga dapat menggiring mereka masuk Islam secara halus. Dengan cara memanfaatkan budaya Hindu dan Budha sebagai sarana dakwah.

Karena kepiwaiannya itu Sunan Kalijaga mendapat banyak julukan. Di Cirebon dia dipanggil Pangeran Jayaprana, di daerah lain sering disebut Raka Brangsang,Entol,Kajabur dan sejumlah nama lainnya. Ia juga dikenal sebagai ulama besar, seorang wali yang memiliki kharisma tinggi. Bahkan dikatakan pula, ia mengungguli para wali lainnya.Sunan Kalijaga dikenal dan dikagumi oleh masyarakat lapisan bawah, namun disegani oleh kalangan atas. karena mempunyai pemikiran dan terobosan baru juga ide-ide ‘nyentrik’ yang diciptakan untuk berdakwah. Ia juga mengenakan pakaian yang mencerminkan ciri khas jawa, sehingga rakyat yang masih awam tidak merasa asing melihat penampilannya.

Adat istiadat yang dalam pandangan para wali lainnya dianggap bid’ah, namun oleh Sunan Kalijaga tidak langsung ditentangnya. Ia mempunyai anggapan bahwa orang harus dibuat senang dulu, kemudian perlahan-lahan merebut simpatinya sehingga mereka berkenan mendekati para wali. Jika sudah terbentuk yang demikian, maka Sunan Kalijaga kemudian memasukan ajaran agama Islam. Apabila mereka telah mengenal Islam dan menjadi muslim, perlahan-lahan diberi pengertian bahwa adat-istiadat yang dilakukan selama ini bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

My Blog List

Site Info

Followers

.:Zhevy-Klat-10:. Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template